Janganlah berselingkuh, karena selingkuh merusak rumah tangga!!

Setiap pasangan suami istri menginginkan rumah tangganya langgeng dan berlangsung terus sampai tua atau maut hadir memisahkan, setiap pasangan yang mengikrarkan akad pernikahan pasti menanamkan tekad tersebut, maka dalam batas-batas tertentu tidak keliru kalau ada yang berkata, menikah sekali seumur hidup, sebagai ungkapan tekad mempertahankannya sekuat daya dan upaya agar ia tidak bubar di tengah jalan. Akan tetapi dalam perjalanannya pernikahan bukanlah tanpa tantangan dan rintangan, kata orang, pernikahan adalah sampan yang berlabuh di lautan, ia tidak mungkin terbebas dari hantaman ombak dan terpaan angin, jika penumpang sampan mampu mengatasinya dengan baik niscaya sampan akan sampai di pulau seberang dan yang ada di atasnya selamat, begitulah perumpamaan pernikahan.

Ombak dan angin besar yang bisa menenggelamkan sampan pernikahan dan terbukti melalui penelitian dan pengamatan bahwa ia pemicu tertinggi dan nomor wahid bagi karamnya perahu perkawinan adalah ketika pasangan ‘melirik’ orang lain, tatkala pasangan termakan kata-kata, ‘rumput tetangga lebih hijau’. Karena lebih hijau ia lebih sedap dipandang dan lebih menyejukkan mata. Kata-kata dari orang-orang yang hatinya dibalut dengan penyakit syahwat yang kotor.

Inilah selingkuh yang dalam kamus agama Islam dikenal dengan zina. Anda mungkin berkata, kami tidak melakukan, kami tidak berbuat, kami hanya sekedar tertarik, saling pandang, berbicara, curhat, kami sekedar berteman akrab, jalan bareng, makan bareng, saling mengunjungi, saling bergurau dan bercerita, saling…. Dan seterusnya. Kepada Anda saya katakan, jika Anda telah bersuami atau beristri maka itulah selingkuh. Cobalah renungkan hadits Nabi saw berikut ini.

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَمَحَالَةَ، فَالعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الإِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الكَلاَمُ، وَاليَدُ زِنَاهَا البَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الخُطَا، وَالقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ .

“Dicatat atas Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia mendapatkanya tidak mungkin tidak, maka dua mata zinanya adalah memandang, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, dua kaki zinanya adalah melangkah, dan hati menginginkan dan mendambakan, hal itu dibenarkan oleh kemaluan atau didustakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Karena telah terbukti bahwa selingkuh yang sama dengan zina merupakan kapak terbesar yang merobohkan dan meruntuhkan bangunan rumah tangga, hal itu karena siapapun yang masih memiliki fitrah yang lurus pasti menolak dan melepehnya bahkan pelaku zina itu sendiri. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah berkata, Seorang anak muda datang kepada Nabi saw, dia berkata, “Ya Rasulullah, izinkanlah aku berzina.” Maka orang-orang berkumpul di sekelilingnya, mereka menghardiknya, mereka berkata, “Diamlah kamu, diamlah kamu.” Nabi saw bersabda, “Dekatkanlah dia ke mari.” Maka anak muda itu didekatkan, Nabi saw bersabda, “Duduklah,” Anak muda tersebut duduk. Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk ibumu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk ibu mereka.” Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk putrimu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk putri mereka.” Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk saudara perempuanmu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk saudara perempuan mereka.” Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk bibimu dari bapakmu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk bibi dari bapak mereka.” Nabi bertanya, “Apakah kamu menyukai zina untuk bibi dari ibumu?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah, aku korbankan diriku untukmu.” Nabi bersabda, “Orang-orang juga tidak menyukainya untuk bibi dari ibu mereka.” Lalu Nabi saw meletakkan tanganya di atasnya sambil bersabda, “Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan jagalah kehormatannya.” Dia berkata, “Setelah itu anak muda tersebut tidak melirik kepada apa pun.

Hal yang sama berlaku untuk suami istri karena jika tidak maka suami manapun yang berfitrah lurus ketika ditanya, Apakah kamu rela istrimu berzina? Jawabannya bisa dipastikan, hal yang sama pada istri, jika dia ditanya dengan pertanyaan yang sama niscaya jawabannya pastilah sama. Lebih dari itu fitrah yang lurus juga akan menolak ketika misalnya ia dijodohkan dan disandingkan dengan pelaku dosa ini.

Firman Allah, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (An-Nur: 3).

Firman Allah, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu), bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (An-Nur: 26).

Karena selingkuh alias zina merupakan penghancur rumah tangga dalam urutan teratas maka maka Islam mengharamkannya demi menjaga kelangsungan dan keberadaannya termasuk perantara-perantara dan wasilah-wasilahnya.

Firman Allah, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra`: 32).

Ibnu Katsir berkata, “Allah berfirman melarang hamba-hambaNya dari zina dan mendekatinya yakni melakukan sebab-sebabnya dan pemicu-pemicunya.”

Ibnu Sa’di berkata, “Larangan mendekatinya lebih mendalam daripada larangan melakukannya, karena hal itu mencakup larangan terhadap semua pengantar dan penyebabnya.”

Ibnu Utsaimin berkata, “Ayat ini menunjukkkan bahwa kita wajib meninggalkan segala sesuatu yang membawa kepada zina, baik zina kelamin dan inilah yang paling besar atau selainnya.”

Islam adalah yang terbaik tatanan dan aturannya termasuk dalam masalah hubungan laki-laki dengan perempuan. Islam meletakkan kode etik yang beradab dalam hal ini yang tidak dimiliki oleh aturan dan tatanan manapun di dunia ini. Semua itu demi kebaikan dan kesucian masyarakat termasuk rumah tangga.

Selingkuh alias berzina adalah penyakit kotor dan kanker ganas yang merobohkan tatanan mulia masyarakat yaitu pernikahan, berapa banyak rumah tangga berantakan, berapa banyak istri yang menuntut talak, berapa banyak suami yang menceraikan, berapa kali bapak hakim di pengadilan agama mengetok palu talak, berapa banyak anak-anak terpisah dari pengasuhan bapak ibunya, berapa banyak hubungan baik yang terjalin di antara keluarga suami dengan keluarga istri terputus dan berbalik menjadi hubungan buruk, biang kerok dan kambing hitam terbesar dalam semua itu adalah penyakit ini.

Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan dan keluhuran, membenci dan memerangi kerendahan dan kebinatangan tingkah laku, telah meletakkan langkah-langkah preventif yang jika dilaksanakan dengan baik akan mengeliminir dan menyisihkan penyakit buruk ini.

Pertama: Islam memerintahkan wanita-wanita muslimah berjilbab di hadapan laki-laki yang bukan mahram sebagai tindakan antisipatif terhadap kemungkinan jahat terhadap dirinya, dengan jilbabnya seorang wanita muslimah dikenal sehingga laki-laki dengan jiwa kotor tidak lagi berharap bisa meraih impiannya darinya.

Firman Allah, “Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59).

Kedua: Di samping Islam mengajak para wanita muslimah agar melindungi diri dengan pakaian yang syar’i, Islam juga mendorong mereka agar melindungi diri dengan berdiam diri di rumah, tidak meninggalkan pos tersebut kecuali untuk kepentingan yang mendesak, sebab bagaimanapun rumah adalah tempat terbaik bagi muslimah, di samping sebagai pelindung, rumah juga sebagai ajang ibadah-ibadah besar lagi mulia bagi seorang muslimah.

Firman Allah, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33).

Ketiga: Islam melarang wanita berbicara dengan suara yang dibuat-buat dan dilembut-lembutkan sebab hal itu bisa memancing orang yang berhati busuk untuk berharap sesuatu darinya.

Firman Allah, “Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32).

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah adab yang Allah perintahkan kepada istri-istri Nabi saw dan wanita-wanita umat mengikuti mereka dalam hal ini… Artinya bahwa dia berbicara dengan orang asing dengan ucapan yang tidak mengandung kelemah-lembutan yakni seorang wanita tidak berbicara dengan laki-laki asing seperti dia berbicara kepada suaminya.”

Keempat: Islam mengajarkan kaum muslimin jika mereka mempunyai hajat kepada istri-istri Nabi saw agar mereka menyampaikannya dari balik tabir, dan perkara ini bukan kekhususan, akan tetapi para wanita muslimah dalam perkara ini mengikuti para istri Nabi saw. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersihan hati masing-masing.

Firman Allah, “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53).

Kelima: Islam mengajak para wanita muslimah bersikap sopan dan tidak melakukan sesuatu yang bisa menggoda laki-laki, salah satunya adalah dengan memperlihatkan perhiasannya dihadapan orang yang mana dia dilarang menampakkannya kepadanya.

Firman Allah, “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).

Termasuk dalam hal ini jika seorang wanita berdandan atau berparfum bukan untuk suaminya akan tetapi demi orang lain, agar orang-orang melihatnya cantik dan mencium bau harum parfumnya, perbuatan wanita seperti ini dilarang, ia tergolong zina.

Dari Abu Musa dari Nabi saw bersabda, “Setiap mata berzina, apabila seorang wanita memakai wewangian lalu dia melewati suatu majlis, maka dia adalah begini begini.” Yakni pezina. (HR. at-Tirmidzi dan dia berkata, “Hasan shahih.” Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan an-Nasa`i).

Keenam: Islam mengajarkan kaum muslimin agar menjaga dan menundukkan pandangan, karena pandangan adalah jendela hati, apa yang terbetik dalam hati biasanya bermula dari mata. Apabila seseorang tidak menundukkan pandangannya maka ia akan melihat apa yang semestinya tidak patut untuk dilihat dan itu akan berpengaruh kepada hatinya bahkan bisa mengotorinya.

Firman Allah, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. ”Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya.” (An-Nur: 30-31).

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah perintah dari Allah Taala kepada hamba-hambaNya yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dari apa yang Allah haramkan, mereka jangan melihat kecuali kepada apa yang Allah perbolehkan untuk dilihat. Hendaknya mereka memalingkan pandangan dari perkara-perkara yang diharamkan.”

Dari Jarir bin Abdullah berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang penglihatan yang tiba-tiba, beliau bersabda, “Palingkanlah pandanganmu.” (HR. Muslim).

Dari Abu Said al-Khudri dari Nabi saw bersabda, “Hindarilah duduk di jalanan.” Mereka berkata, “Ya Rasulullah, kami sulit menghindarinya karena itu adalah lahan kami berbicang-bincang.” Nabi saw bersabda, “Jika kalian menolak kecuali duduk maka berikanlah jalan itu haknya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu hak jalan?” Nabi saw bersabda, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan sesuatu yang mengganggu, menjawab salam, beramar ma’ruf dan bernahi mungkar.”(Muttafaq Alaihi). Wallahu a’lam.

Selingkuh adalah berzina tingkat tinggi karena kata selingkuh dalam penggunaan sehari-hari diperuntukkan bagi orang yang berzina sementara dia bersuami atau beristri, dalam kamus fikih Islam dikenal dengan istilah zina muhshan, yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang menikah atau pernah menikah dengan sah dan dia sudah merasakan madu pernikahan. Zina ini adalah zina tingkat tinggi karena hukumannya memang berat yaitu rajam dengan batu sampai mati, berbeda dengan zina yang lebih rendah yang dilakukan oleh para bujangan atau gadis, di mana hukumannya adalah dera 100 kali plus pengasingan dari daerahnya selama satu tahun.

Selingkuh lebih berat karena pelaku telah memiliki dan mendapatkan yang halal, akan tetapi jiwa yang kotor belum merasa kenyang kecuali dengan menambah dari yang haram, maka hukuman yang sesuai dengan perbuatannya adalah hukuman mati dengan cara di atas karena kehidupannya hanya akan merusak dan menghancurkan masyarakat khususnya rumah tangga orang. Dan anggota tubuh yang terjangkit kanker stadium tinggi jika tidak mampu ditangani, maka tidak ada kata lain selain amputasi, sebab jika dibiarkan, ia akan memakan anggota yang lain.

Preventif lebih penting daripada kuratif, pencegahan lebih baik daripada pengobatan dan pengobatan terbaik adalah pencegahan itu sendiri, dari sini maka agama Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi harkat manusia dan meletakkannya pada tempat termulia serta menjaganya dari jurang degradasi ke level rendah yaitu level kebinatangan, memberikan tatanan dan aturan preventif terbaik dalam perkara ini demi kehormatan manusia itu sendiri.

Pertama: Jika Anda adalah seorang istri maka janganlah Anda menceritakan dan menjelaskan wanita lain dari sisi jasmani kepada suami. Jangan pernah bercerita kepada suami, “Fulanah ininya begini, atau fulanah anunya begini, atau fulanah itunya begini” dan sebagainya, jika hal ini Anda lakukan maka Anda telah membuka sebuah jendela wawasan kepada suami Anda tentang wanita, selanjutnya setan bekerja mengipasi daya khayal suami, kemudian suami yang lemah iman tergoda, Anda dicerai atau dia memburu wanita yang Anda jelaskan kepadanya di belakang Anda dan itulah selingkuh.

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنهُ قَالَ : قال رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليهِ وَسَلمّ : لاَ تُبَاشِرِ المَرْأَةَ، فَتَصِفَهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا .

Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah saw bersabda, “Janganlah seorang wanita memandang wanita lain secara detil lalu dia menjelaskannya kepada suaminya sehingga seolah-olah suaminya melihat kepada wanita tersebut.” (Muttafaq alaihi)

Imam an-Nawawi menulis hadits ini dalam Riyadh ash-Shalihin di bawah bab larangan menceritakan kecantikan seorang wanita kepada seorang laki-laki kecuali jika diperlukan untuk tujuan yang syar’i seperti menikah dan lainnya.

Syuaib al-Arnauth dalam tahqiq Riyadh ash-Shalihin berkata, “Hikmah dari larangan ini adalah suami dikhawatirkan mengagumi sifat tersebut, lalu dia mentalak istri yang menjelaskan atau dia terfitnah oleh wanita yang disifati.”

Kedua: Khalwat atau berdua-duaan dengan laki-laki atau wanita tanpa ada mahram merupakan lahan subur zina dan perselingkuhan, bagaimana tidak sementara pihak ketiganya adalah setan plus kesempatan dan peluang terbuka sedemikian lebarnya, mana tahan? Wajar bahkan harus jika Islam mengharamkan khalwat ini.

عن ابنِ عباسٍ رَضِيَ اللهُ عنهما، أَنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قالَ : لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ .

Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita kecuali bersama mahram.” (Muttafaq alaihi).

Dan khalwat paling berbahaya adalah khalwat antara kerabat suami dengan istri, sampai-sampai Rasulullah saw menyatakan bahwa hal itu adalah kematian.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عنهُ، أَنَّ رَسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ : أَفَرَأَيْتَ الحَمْوَ ؟ قَالَ : الحَمْوُ المَوْتُ .

Dari Uqbah bin Amir bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jauhilah masuk kepada para wanita.” Lalu seorang laki-laki berkata, “Bagaimana dengan kerabat suami?” Nabi saw menjawab, “Kerabat suami adalah kematian.” (Muttafaq alaihi).

Ketiga: Di samping seorang muslimah diwajibkan berjilbab dan berhijab, dia juga diajari bersikap sopan dengan tidak bertindak dan berperilaku layaknya wanita obralan demi mengundang laki-laki berhasrat kepadanya. Jangan sampai seorang muslimah termasuk kedalam salah satu dari dua golongan manusia yang belum dilihat oleh Rasulullah saw, karena mereka memang belum ada pada masa beliau, akan tetapi di masa kita ini mereka menjamur dan merata. Naudzubillah.

عن أَبِي هُرَيْرَة رَضِيَ اللهُ عنه قَال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرْهُمَا : قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ البَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسِ ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ، مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ ، وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا ،وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا .

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat: suatu kaum dengan cambuk di tangan laksana ekor sapi dengannya mereka mencambuk manusia dan wanita-wanita berpakaian (tetapi) telanjang, berjalan berlenggak-lenggok mengundang nafsu, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya dan sesungguhnya baunya tercium dari jarak segini dan segini.” (HR. Muslim).

Jika Anda adalah wanita yang demikian maka saya yakin Anda akan menjadi pintu selingkuh paling lebar.

Keempat: Jika pandangan mata harus dijaga karena ia merupakan jendela hati yang bisa menimbulkan pikiran kotor, maka hal yang sama berlaku pada kontak fisik, bertemu atau menempelnya kulit dengan kulit, dan ini sering terjadi melalui jabat tangan, bahkan lebih buruk dari itu adalah cium pipi antara wanita dengan laki-laki asing yang bukan mahramnya, sebuah kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah lagi kafir yang ditiru oleh kaum muslimin dan ia menjadi wabah yang sudah dianggap lumrah padahal dari segi pertimbangan agama ia bukanlah sesuatu yang remeh, ia adalah penghantar terbaik bagi terpancingnya sesuatu pada diri laki-laki yang menjadi titik awal perbuatan dosa ini.

Orang sering berkilah dan beralasan kepada kebersihan hatinya dan bahwa dia tidak memiliki maksud kotor dan rusak, saya katakan, apakah hati Anda lebih bersih dari pada Rasulullah saw? Beliau adalah orang terbersih dan terjauh dari maksud kotor, tetapi lihatlah dalam kondisi penting seperti baiat, beliau tidak menjabat tangan para wanita yang membaiat beliau, cukup dengan ucapan lisan.

Aisyah berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah saw tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun, beliau hanya membaiat para wanita dengan ucapan. Demi Allah Rasulullah saw tidak mengambil baiat atas para wanita kecuali dengan apa yang diperintahkan Allah, telapak tangan Rasulullah saw tidak pernah menyentuh telapak seorang wanita pun, beliau berkata selesai membaiat mereka, ‘Aku telah membaiat kalian.’ Dengan perkataan.” (HR. Muslim).

Kelima: Islam melindungi wanita karena wanita memang harus dilindungi, salah satu bentuk perlindungan yang diberikan Islam adalah larangan bagi wanita melakukan perjalanan sendiri tanpa didampingi mahram. Apabila seorang wanita pergi keluar dari rumahnya dan dari kotanya maka dia telah meninggalkan benteng perlindungannya. Perjalanan dan keberadaannya tanpa pendamping di negeri orang bisa dimanfaatkan oleh para serigala berbaju manusia, dan betapa banyaknya mereka di zaman ini dan betapa banyak wanita dungu yang tertipu oleh para serigala tersebut dalam kondisi kesendiriannya, lebih-lebih di daerah asing. Alih-alih untuk perjalanan mubah, untuk perjalanan ibadah yaitu haji, keberadaan mahram menjadi syarat yang tidak perlu ditawar jika Anda menginginkan keselamatan.

عن ابنِ عباسٍ رَضِيَ اللهُ عنهما، أَنَّهُ سَمعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يقولُ : لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إلا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلاَ تُسَافِرُ المَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ : يَا رسولَ الله إِنَّ امْرَأَتي خَرَجَتْ حَاجَّةً، وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا ؟ قال : انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ .

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya, janganlah seorang wanita melakukan perjalanan kecuali bersama mahramnya.” Seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, istriku akan pergi haji sedangkan aku akan ikut dalam perang ini dan ini.” Rasulullah bersabda, “Pergilah dan dampingi istrimu.” (Muttafaq alaihi).

Keenam: Ikhtilath atau bercampurnya laki-laki dengan perempuan termasuk pengantar kepada dosa ini, dalam keadaan ikhtilath laki-laki bisa bebas memandang begitu pula sebaliknya, laki-laki bebas berbicara begitu pula sebaliknya bahkan mungkin mencium aroma wangi dari parfum yang dipakai, lebih dari itu bisa terjadi persinggungan dan semua itu adalah sarana kepada dosa yang menghancurkan keluarga ini, dari sini sudah saatnya ikhtilath ini dihindari demi menghindari dampak buruk yang menyertainya.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Ikhtilath menyelisihi tuntutan syariat dan menyelisihi petunjuk salaf shalih. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Nabi saw memberikan tempat khusus bagi para wanita jika mereka hadir di musholla Id agar mereka tidak bercampur dengan kaum laki-laki, sebagaimana dalam hadits shahih bahwa beliau setelah berkhutbah kepada kaum laki-laki pergi kepada para wanita dan menasihati mereka, hal ini karena mereka tidak mendengar khutbah beliau, atau jika mereka mendengar maka mereka tidak mendengar dengan baik. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Nabi saw bersabda, ‘Sebaik-baik shaf wanita adalah yang terakhir dan seburuk-buruk shaf wanita adalah yang pertama.’ Hal itu karena dekatnya shaf pertama wanita dengan kaum laki-laki, maka shafnya adalah seburuk-buruk shaf, sementara shaf terakhir adalah sebaik-baik shaf karena ia jauh dari kaum laki-laki, jika hal ini dalam ibadah bersama lalu bagaimana dugaanmu jika ia di luar ibadah dan sudah dimaklumi bahwa dalam kondisi ibadah seseorang dalam keadaan yang paling jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan dorongan kepada lawan jenis.”

Kata terakhir, keluarga adalah salah satu nikmat besar lagi mulia dari Allah, ia harus disyukuri dengan menjaganya, selingkuh berarti mengkufuri nikmat yang satu ini dan Allah telah berfirman, “Dan jika kamu kufur terhadap nikmaKu niscaya azabKu sangat pedih.” (Ibrahim: 7).

About EkaHandoko

Saya adalah ibu rumah tangga biasa untuk keluarga kecil yang luar biasa dengan impian yang tidak biasa..

Posted on Februari 1, 2012, in Wisata Hati. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: